Pertemuan sepuluh tentang " Hubungan Struktur, Sifat Fisika Kimia, dan ADE (Absorpsi, Distribusi, Eksresi)" Kelarutan dan laju disolusi obat pada saluran gastrointestinal merupakan parameter dalam mengendalikan absorpsi dan bioavaibilitas obat. Obat yang sulit larut air dan disolusi rendah dalam cairan gastrointestinal akan menghasilkan bioavaibilitas oral rendah sehingga peningkatan kelarutan dan laju disolusi menjadi tantangan. Salah satu upaya mengatasinya adalah dengan menurunkan ukuran partikel, tapi partikel kecil yang terbentuk berpotensi membentuk aglomerasi dan agregasi. Link youtube : https://youtu.be/ozhYHk7PwGc
Bagaimana hubungan antara aktivitas enzim N-acetyltransferase, sitokrom P450 oksidase, uridine diphosphate glucuronosyltransferase (UGT), dan glutathione S-transferase (GST) dengan risiko terjadinya hepatotoksisitas pada penggunaan obat anti-TB?
BalasHapusHepatotoksisitas ini umumnya tidak terprediksi
Hapusdan terjadi pada sejumlah kecil pasien bahkan ketika obat
telah diberikan sesuai dosis yang dianjurkan. Efek samping
ini tidak hanya menyebabkan morbiditas dan mortalitas,
tetapi juga menyebabkan terganggunya pengobatan
karena ketidakpatuhan, kegagalan dan kekambuhan, yang
menyebabkan terus menyebarnya penyakit dan timbulnya
resistensi terhadap obat TB. Di antara obat anti-TB (OAT),
metabolisme INH, yang merupakan salah satu OAT
terdepan, telah dipelajari secara ekstensif, dan dikatakan
asetilasi oleh NAT2, oksidasi oleh sitokrom P450 oksidase
(CYP2E1) dan detoksifikasi oleh GST memainkan peran
penting dalam INH-induced hepatotoksisitas.
Bagaimana polimorfisme genetik dalam enzim NAT2 dapat mempengaruhi risiko hepatotoksisitas pada penggunaan obat anti-TB, seperti INH?
BalasHapusPolimorfisme pada lokus metabolisme obat yang berbeda
Hapusdapat menyebabkan perbedaan dalam respon farmakologi
terhadap obat pada setiap individu. Farmakogenetik dan
N-asetiltransferase secara historis terkait, dan variasi in vivo
dalam aktifitas NAT adalah salah satu sifat farmakogenetik
yang dikenali paling awal. Aksi dari enzim NAT2 pertama
kali diidentifikasi sebagai langkah lanjut yang secara umum
dikontrol untuk metabolisme INH.3
Apa implikasi pengetahuan tentang polimorfisme NAT2 dan CYP2E1 dalam pengobatan pasien TB dan upaya pengendalian efek samping hepatotoksik?
BalasHapusdari INH oleh N-asetilasi. Turunan asetilasi dari INH
Hapusmenghambat sekitar 100 kali lebih sedikit aktifitasnya secara
invivo dan 500-kali lebih sedikit aktifitasnya secara invitro
terhadap M. tuberculosis. Hal ini menunjukkan bahwa
N-asetil transferase dari M. tuberculosis meningkatkan
kelangsungan hidup bakteri selama pengobatan INH.
Oleh karena itu, asetilasi dari INH oleh bakteri NAT dapat
membuat itu tidak aktif. NAT endogen dari M. tuberculosis
mungkin memiliki fungsi yang berbeda dalam proses
perkembangannya, tetapi dapat mengubah sensitivitas
bakteri terhadap INH.
CYP merupakan kelompok besar multigen dengan
spesifisitas substrat yang berbeda, sangat penting dalam
reaksi oksidasi beberapa bahan kimia eksogen dan
endogen ke bentuk reaktif utama mereka. CYP2E1, salah
satu Enzim CYP, dapat mengkonversi asetil hidrazin
menjadi hepatotoksin, seperti acetyldiazene, ketena, ion
acetylonium dan sebagainya, yang dapat mempengaruhi
hepatotoksisitas OAT.
Dari jawaban yang diberikan dapat dikatakan bahwa hepatotoksisitas adalah efek samping yang umum pada sejumlah kecil pasien yang memakai obat, termasuk obat untuk tuberkulosis. Efek samping tersebut tidak hanya menimbulkan gangguan kesehatan dan kematian, tetapi juga mengganggu pengobatan dan dapat menimbulkan resistensi terhadap obat tuberkulosis. Metabolisme obat INH, salah satu obat anti-tuberkulosis yang paling penting, telah dipelajari secara ekstensif. Polimorfisme gen yang terkait dengan metabolisme obat dapat memengaruhi respons setiap individu terhadap obat. Polimorfisme enzim NAT2 telah terlibat dalam metabolisme INH, dan variasi aktivitas NAT2 memengaruhi hepatotoksisitas. Selain itu, enzim CYP2E1 juga berperan dalam mengubah INH menjadi senyawa hepatotoksik. Hal ini menunjukkan bahwa variasi genetik dari enzim ini dapat mempengaruhi respon terhadap penggunaan INH dan risiko hepatotoksisitas. Jadi kesimpulannya adalah dengan memahami peran genetik dalam metabolisme obat seperti NAT2 dan CYP2E1 dapat membantu memprediksi dan mengelola risiko hepatotoksisitas dari obat tuberkulosis seperti INH.
BalasHapus